Kawan

Bismillah…

Pada saat SMK, guruku mengatakan padaku “baik- baiklah pada teman sebangkumu, karena temanmu itu mengatakan : “aku mengangap dia (diriku) adalah teman terbaikku, tapi mungkin dia tidak memiliki pikiran yang sama denganku, its okay sir””, aku merasa sangat menyesal dan merasa bersalah hingga sekarang padanya. Dan giliranku sekarang , merasakan apa yang ia rasakan namun bedanya ia segera menemukan teman baru sedang aku berlarut larut dalam rasa bersalah.

cute-baby-friendship

No, Drama please!, itu sering kuutarakan pada diriku… tapi justru diriku membuat hubunganku dan temanku semakin tidak nyaman, and the drama continue playing. Malam itu cerah, tidak mendung dan tidak pula hujan.. namun mendung betul- betul dihatiku dan hujan airmata dipipiku, aku sangat menyayangi temanku itu namun aku justru berkata yang tidak baik padanya malam itu.

Kutau sebagai seorang pemimpin, dia ingin benar- benar berbuat adil pada semua teman- temannya.. tidak pandang siapapun dia, dia begitu idealis untuk masalah yang seperti itu. Namun aku malah berkata yang seolah- olah bahwa ia memperlakukanku tidak adil “ya.. memang apalah aku ini, dibandingkan dengan teman- temanmu yang lain, yang lebih pintar2” seandainya pada malam itu aku mengatakan sambil tersenyum “aku tau kawan, teman- temanmu memanglah banyak… tapi lihatlah diriku yang sering menemanimu”, intinya sama… tapi redaksi kata benar2 seperti sebuah pengasah pisau… bisa menjadikan pisau menjadi tumpul atau tajam sekali.

Kawan, Jujur aku kecewa denganmu, karena aku tidak tahu sampai sekarang kau memaafkanku atau tidak… mengapa begitu berat memaafkanku. Tapi aku lebih kecewa pada diriku sendiri… aku seperti memecahkan gelas2 diatas nampan yang telah kubawa berletih- letih… dengan hal yang kuanggap remeh, sedangkan aku saat ini tak tau lagi dapat menyusun pecahan- pecahan itu tapi dengan bekas retakan2 yang tidak akan pernah hilang, ataukah kau akan memberiku gelas dan nampan yang baru.

Kawan, yang kutau hatimu sangatlah lembut… karena itu aku menjulukimu awan, tapi tebalnya gumpalanmu yang terdiri dari es, petir, debuh… kini membuatku takut, bahkan untuk memulai suatu pembicaraan denganmu

Kawan, kuakuai diriku sangatlah egois… terkadang aku mengingat- ingat perbuatanku padamu, tanpa aku pernah memikirkan banyaknya perbuatanmu padaku, itu juga yang membuatku salah berucap pada malam itu. Dan sekali lagi aku bertanya, maukah kau memaafkanku dan memberiku gelas dan nampan yang baru? Aku besungguh-sungguh ingin menghilangkan sifat egoisku, dan berbicara ngelanturku ini. Maukah engkau membantuku?

Kawan jika mungkin kau sempat membaca ini, ketahuilah…aku sangat menyayangimu,  bagiku sahabat itu adalah keluarga, tempatku berpulang ketika aku tidak memiliki rumah, tempatku terlihat apa adanya, dan tempatku mencurahkan keluh dan kesah.

Kawan, kekuranganku yang paling menonjol ialah tidak fasihnya diriku merangkai kata, sehingga sering melukai perasaanmu, usilnya tangan dan kakiku sehingga sering mengganggu kenyamananmu… tapi ketahuilah, aku tidak bermaksud jahat padamu… itu hanya karena aku terbiasa denganmu.

Kawan… maafkanku.. sungguh aku hanya manusia biasa yang sering berbuat dan berkata salah.. dan maafkanku bila aku berharap lebih padamu… aku menunggu….

Koepang,

dipenghujung Agustus…. Disaat terangnya bulan mengingatkanku dengan dirimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s