Love is the Humbling Part2

Bismillaah…..

[Lanjutan Kisah Orang Sederhana itu..]

Waktu terus berlalu, dan segalanya berjalan seperti yang diharapkan..

Aku turut bahagia ketika terdengar kabar bahwa ia hendak dikhitbah (dilamar). Berkali-kali kuucapkan syukur pada Alloh, sungguh aku semakin yakin pada janji Alloh tentang takdir jodoh, bahwa tak terkecuali manusia di dunia ini yang ditinggalkan olehNya, kekurangan bukanlah alasan untuk sendiri selama-lamanya. Aku begini karena aku tahu siapa dia, bagaimana dia..

Ahad itu, seperti biasa aku mengajaknya pergi ta’lim. Tidak biasanya ia meminta maaf karena tak bisa menemani, lantaran ada satu keperluan yang tidak bisa ditinggal. Aku cukup berhusnudzon saja saat itu. Tak dinyana ahad itu adalah ahad yang membahagiakan. Datang seorang pangeran yang hendak meminangnya.

Ah, kembali aku memaksanya bercerita tentang hari itu. Aku berusaha memahami bahwa kadang seseorang butuh kawan untuk berbagi kebahagiaan. Wanita dengan perasaannya, kadang sulit jika harus memendam rasa bahagia yang meluap-luap. Akupun begitu, tapi bedanya aku cukup berkata pada cermin dan bantal kasurku. He.

Ia mulai berkisah lagi…
Tak seperti pada umumnya sebuah lamaran, ikhwan itu hanya ditemani seorang laki-laki, yang tidak lain adalah suami umahat wasilah tadi. Ikhwan itu memang telah jauh hari bernego kalau tidak akan ada keluarga yang hadir menemaninya di momen yang sakral tersebut. Ya, ia tidak punya cukup fulus untuk itu.

Maa syaa Alloh, jikalau engkau menjadi orangtua wanita tsb, apakah kiranya engkau mau merelakan anakmu pada laki-laki yang meragukan seperti itu? tapi alangkah menakjubkan bagiku bahwa ternyata keluarga akhwatpun mau memaklumi dan tidak menuntut apapun, termasuk sebuah cincin yang biasa disematkan dijari manis anaknya, apalagi bagi orang jawa yang begitu menjaga anak putrinya; biasanya ini syarat mutlak meski bernilai 0,5 atau 1 gram emas..

Ya, Ikhwan itu hanya meminangnya dengan bacaan bismillaah… ^^

Rasa haru dan bahagia kurasakan saat mendengar kisah ini. Duhai ukhty, begitu lapangnya hatimu dengan ketercukupan ini… bukankah setiap wanita menginginkan hal itu? Berharap ada sesuatu yang bisa mengikatnya, bukti bahwa laki-laki itu sedang tidak main-main dan serius meminangnya…

Di saat itu pula, sekali lagi kesabaran mereka harus diuji.
Laki-laki itu menyampaikan bahwa ia belum bisa menyegerakan menikah saat itu, dan ia berjanji untuk memenuhinya tahun depan, tahun 2012. Ia musti mengumpulkan uang untuk persiapan menikah dan rumah tangganya kelak, ketika ia tengah menyelesaikan skripsi dan menghidupi keperluannya sehari-hari.

Kuamati matanya saat dia bercerita, karena memang tak ada yang bisa diperhatikan darinya, kecuali kedua matanya yang berbinar. Sekaligus aku berharap agar aku terlihat sedang mendengarnya dengan baik, memberinya pancaran mata yang semakin membuatnya bersemangat.

Tahukah engkau, tak kulihat sama sekali kekhawatiran dalam dirinya; dalam matanya ataupun dalam katanya. Tak terdengar keluhan, justru senyuman dan tawa kecil mengiringi.. maa syaa Alloh, lagi-lagi aku tersenyum dan diam-diam berdoa untuknya..
[Bersambung]

Ditulis Oleh Ummu Abdillah Safannah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s