Penyesalan yang Mengagumkan

Bismillahirrahmanirraahiim-

Mengcopy dari status sahabat  fesbuk -smg Allah menjaganya-, yang semoga sangat bermanfaat untuk saya pribadi dan teman-teman semuanya, kisah diambil dari sebuah pondok pesantren putri kecil yang pernah saya ceritakan pada saat bersama kalian (part3). Subhanallah benar- benar pondok kecil yang selalu kurindukan#SdikitMengenang.

—————————————————————————————————-

Disudut teras itu sudah biasa kumulai percakapan dengan beberapa teman yang hebat. Lantai yang dingin dibawah sinar temaram matahari yang masuk di celah-celah daun pohon jati yang menaungi pondok di desa kecil ini. Atau biasanya kudatangi segerombol dari mereka yang selalu tersenyum ketika kumasuki kamar-kamar mereka, duduk santai diantara ranjang-ranjang bertingkat yang berjejer rapi bak asrama tentara kakakku. Ah lain kali kan kuceritakan indahnya.

Saat ini, ingin kucuplik sebuah episode dialog di waktu siang itu, Selasa 3 Januari 2012. Perbincangan singkat saat sholat dzuhur dilaksanakan, saat yang lain tengah berjejer memenuhi shaf dan merapatkannya, saya memanggil seseorang untuk menemani saya disudut teras itu, melihat tanah basah dan daun bambu yang melengkung diatas pagar tinggi seolah ingin pula mengintip wanita-wanita solihah ini, perbincangan antara dua orang yang sama-sama sedang diharamkan sholat ketika itu.

Dia adalah seseorang yang pernah -suatu kali- kutakuti kehilangannya, Rifkatunnisa’, begitulah namanya. Nama yang sangat indah; wanita yang lembut..
Dia wanita yang pintar, suatu kali kuintip rapotnya, dan betapa mengagumkan mendapati angka 10 berjejer di barisan pelajaran-pelajaran agamanya, ini yang berbeda, mungkin aku jadi tak setakjub ini jika itu tertulis di ilmu dunianya. ah, dan lagi-lagi biar kuceritakan di lain waktu tentangnya.

Kumulai percakapan dengan mengutarakan keinginan untuk kembali memintanya menjadi guru bahasa arab, ia mengiyakannya dengan malu-malu, lalu tentang manga dan komik conan yang ia gemari, dan tentang banyak hal, karena selalu saja ada banyak hal yang menarik saat bertemu dengannya. Hingga pada akhirnya aku bertanya tentang sesuatu yang membuatku penasaran selama ini;
tentang bagaimana ibunya sukses mencetak anak-anak solih dan solihah sepertinya dan adik-adiknya; tentang bagaimana membiasakan dia dan adik-adiknya menghafal Al-quran. Sekedar anda tahu, dia adalah seorang hafidzoh di umurnya yang masih sangat muda, hampir 17 thn atau mungkin lebih muda dari itu. Kedua adiknya juga sudah menggenggam 6 juz di kelas 1 & 2 tsanawiyah, juga yang mengagumkan adiknya yang kecil, sudah menghafal 1 juz di kelas 1 SD. Subhaanalloh! Benar-benar mengagumkan bagi seorang yang tak mengenal ilmu agama di tiap jenjang sekolah seperti saya.

Lalu ia berkisah tentang kebiasaan ibunya yang setiap pagi dan petang membacakan lembaran-lembaran mushaf pada anak-anaknya, meminta mereka membacanya bersama-sama dengan perlahan, 3 sampai 5 ayat perharinya. Baru setelah lancar, beliau meminta mereka menghafalnya. hmm.. cara yang tepat memanfaatkan umur-umur yang luar biasa untuk menghafal.
Satu pelajaran bagi calon ibu seperti saya dan wanita2 yang lain, yang tentu menginginkan anak-anaknya solih dan solihah kelak.
Bisa jadi kebiasaan inilah yang membuat anak-anak itu terbiasa menghafal dan memahami sesuatu dengan cepat, dan memang kenyataannya dia dan adiknya termasuk murid berprestasi di kelasnya.

Disela-sela itu, ia sempat menunjukkan muka muram dan bersedih. Anda tahu kenapa? Terlihat kesedihannya saat ia bercerita bahwa ia menyesali ketertinggalannya dari adik-adiknya. Penyesalan yang membuat saya tertampar berkali-kali; ia menyesali masa lalunya, bahwa ketika ia masuk SMP, ia hanya dibekali 1 juz, sedang adik-adiknya sudah menghafal 4 juz, bahkan yang kecil sudah 1 juz di kelas 1 SD! Subhaanalloh. Penyesalan yang tidak pernah saya fikirkan di usia semuda itu, penyesalan yang tertanam di benak saya selama bertahun-tahun adalah ketika dunia dan nilai-nilainya memihak pada orang lain; saya ingat begitu cemburunya dan panasnya hati jika nilai-nilai di rapot saya tertinggal meski 1 poin saja.

Subhaanalloh. Jauh… jauh sekali nilainya! Dunia dan akhirat, maa syaa Alloh. .
Saya tertunduk dan tersenyum kala itu. Duhai Robbi, biarkan saya belajar untuk menjadi orangtua yang benar bagi anak-anak saya kelak. Menjadikan akhirat yang pertama dan utama dari kehebatan dunia. Teringat perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh; “World’s like a shadow, when you turn back, then it will follow you…”

Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yun. aamiin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s