Jikalah pada Akhirnya….

Bismillahirrahmanirrahiim…

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

[(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha
senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap
saja dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini)--

(Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan
tak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya
seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia)]

Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:
Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

[(Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar
setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti.
Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)--

(Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya
sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku
dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?)]

by ::anonim.

Bernafas di Dua Musim

Bismillahirrahmanirraahiim……..

Kenalkah engkau tentangku??? Aku yakin bahwa engkau hanya sekedar mengetahui namaku saja. Tahukah engkau bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika membaca tentangku maka beliau akan berlindung kepada Allah agar benar-benar menjauhiku atau beliau akan menangis..???
Demikian pula para nabi yang lain, para syhuhada dan orang-orang shalih senantiasa takut terhadapku..

Pernah suatu ketika Manshur bin Ammar berbincang-bincang di Masjidil Haram mengenai suatu tema maka fudhail bin iyadh menjerit begitu keras hingga pingsan karena teringat aku..

Uwais al-Qarni pernah berdiri di tempat tukang besi lalu memperhatikan tukang besi meniup ubupan api. Terdengarlah suara api. Maka spontan Uwais menjerit lalu pingsan..

Atha’ as-Salimi pernah melewati seorang anak kecil yang membawa obor. Lalu obor tersebut tertiup angin. Saat mendengar suaranya, maka atha’ jatuh pingsan karena mengingatku.

Ada seorang pemuda dari anshar yang hatinya dirasuki rasa takut padaku. Ketika dia duduk di rumah, Nabipun mendatanginya, maka dia berdiri menghampiri beliau dan segera memeluknya. Tiba-tiba laki-laki itu menjerit histeris, lalu meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi sawallam menyuruh sahabat mempersiapkan jenazahnya.

Itulah pembicaraan tentang aku yang membuat mereka pingsan, tubuh mereka bergetar hebat, tidak bisa tidur bahkan aisyah pun menangis ketika mengingatku.. lebih-lebih lelaki anshar tadi detak jantungya berhenti karena takutnya padaku.

Apakah engkau akan menangis sedih, hatimu bergetar, tubuhmu bergetar atau pingsan ketika mendengar tentang aku????? Baiklah, sedikit ku ceritakan tentang aku..

Inilah nafasku di dua musim

Suatu ketika aku pernah mengadu kepada Allah tentang nafasku. Aku berkata:

wahai Rabb, sebagian diriku memakan sebagian yang lainnya, maka berilah aku nafas.”

Lalu Allah mengizinkanku untuk menghembuskan dua nafas. Satu nafas kuhembuskan di musim dingin dan satu nafas di musim panas. Ketahuilah panas yang paling panas nan menyengat di musim panas itu adalah hembusan nafasku. Begitu pun rasa dingin yang paling dingin nan menusuk tulang yang engkau rasakan di musim dingin adalah hembusan nafasku pula. (1)

Dinginku adalah sebuah rumah yang didalamnya terdapat seorang kafir yang tercabik-cabik karena kedinginan. Kafir tersebut mendidih otaknya. kelak jika tiba saatnya akan ada orang-orang berlari dari panasku dan berharap angin kesejukan namun untuknya kuhembuskan nafas dinginku hingga meremukkan tulangnya.

Tak usalah kuceritakan panasku.. bagaimana wahai anak adam, belum bergetarkah hatimu????

**************

Catatan penulis:

(1) Berdasarkan hadist riwayat al-Bhukhari (536-537), Muslim (617), at-tirmidzi (2595), ibnu majah (4319) dan lainnya.

Kusarikan hadist dan keterangan tentang neraka diatas dari kitab at-Takhwif min an-Nar wa at-Ta’rif Bihal Dar al-Bawar (edisi terjemahan) karya Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah.. Semoga Allah menghidarkan kita dari jahannam.

ditulis oleh : Yani Fachriansyah Muhammad A-samawiy

Meminta Perbaikan Urusan Agama dan Akhirat

Bismillahirrahmanirrahiim..

Dari Abu Hurairah dia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa sebagai berikut: “Alloohumma ashlih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin”

Artinya:
Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng (ishmah) urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan!

(HR. Muslim no. 2720).

Insya Allah Ringan.. ringan ^_^

Bismillahirrahmanirrahiim…

[MEMANDANG RINGAN SEGALA COBAAN]
Diantara sarana yang paling bermanfaat untuk sirnanya keguncangan dan kegundahan manakala seorang hamba tertimpa aneka bencana adalah hendaknya ia berupaya memandang dan menjadikannya ringan. Yaitu, dengan mengandaikan atau membayangkan kemungkinan yang lebih buruk dari yang telah terjadi, dan ia kuatkan hatinya dalam menghadapinya. Jika ia lakukan itu, hendaknya ia berupaya, sejauh kemungkinanm untuk meringankan apa yang mungkin diringankan . Maka, dengan penguatan hati dan upaya yang bermanfaat semacam ini akan hilanglah kegelisahan dan kegundahannya, dan berganti menjadi upaya keras untuk meraih berbagai hal yang bermanfaat dan menangkis berbagai madharat yang menimpa hamba.

Lalu, jika ia terhampiri beberapa penyebab ketakutan, penyebab sakit, penyebab kemiskinan dan ketaktercapainya aneka hal yang disenanginya, hendaklah menghadapinya dengan tenang dan menguatkan hati dalam menanggung derita cobaan akan meringankannya dan menghilangkan tekanannya. Terutama jika ia menyibukkan dirinya untuk menangkis cobaan itu sebatas kemampuannya. Dengan itu, menyatulah dalam dirinya tekad mengukuhkan batin seiring berupaya yang bermanfaat, yang hal itu akan membuatnya tidak kalut oleh berbagai musibah. Ia tekan dirinya agar memperbaharui kekuatannya untuk melawan berbagai cobaan dan bencana, seiring bersandar dan percaya penuh kepada Allah. Tidak diragukan, bahwa upaya-upaya ini memiliki manfaat yang sangat agung untuk terwujudnya suatu kegembiraan dan kelapangan dada, di samping ia pun terus berharap pahala, baik didunia maupun di akhirat. Hal ini sudah dicoba dan disaksikan keberhasilannya. Bukti-bukti keberhasilannya bagi mereka yang telah mecobanya banyak sekali.

[JANGAN MUDAH TERGUNCANG OLEH BAYANGAN BURUK]

Di antara terapi yang paling hebat untuk penyakit syaraf hati, bahkan juga penyakit tubuh, adalah ketahanan dan kekuatan hati serta tidak mudah terguncang atau larut oleh bayang-bayang atau khayalan-khayalan buruk yang dipengaruhi oleh pikiran buruk. Karena, bila mana manusia takluk kepada khayalan-khayalan buruk dan hatinya mudah larut oleh pengaruh-pengaruh emosional yang berupa : rasa takut akan teridapnya penyakit atau semacamnya, mudah marah ataupun terganggunya pikiran oleh hal-hal yang memedihkan perasaaannya, dan membayangkan akan terjadinya bencana ataupun akan hilangnya segala yang disenanginya, kegundahan, penyakit dalam maupun luar dan rusaknya syaraf, yang hal itu mempunyai berbagai efek buruk, yang semua orang menyaksikan sendiri bahayanya yang banyak.

[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa'idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 29-35, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma'ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]

Ditulis oleh:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’ady -rahimahullah-

Iman dan Daratan (Nasehat yang tertuju padaku)

Bismillahirrahmanirrahiim..

Salman al-Farisi: Verily it’s not the land that makes one pious rather it’s the actions of the slave that make him pious
[al-Fataawa 283/18]

Salman Al-Farisi: Sesungguhnya bukan daratan (wilayah) yang membuat seseorang beriman melainkan amalan-amalan dari seorang hamba yang membuatnya beriman
[al-Fataawa 283/18]

via twit @Aboo_thaabit hafidzohulloh

Wahai ukhty,
Kadang kita berkeinginan untuk hijrah ke sebuah tempat atau daerah yang amat kondusif untuk istiqomah dijalan Alloh, mengingat banyaknya halangan dan cobaan yang harus kita hadapi untuk mempertahankan dienul haq ini. Namun di lain sisi, kita tidak mampu berbuat apa-apa dengan kenyataan. Alasan-alasan internal keluarga, pekerjaan dan sebagainya terkadang membuat kita berpikir berulangkali.

Jika memang begitu, maka mulailah untuk belajar meredam keinginan hati.. Berusahalah untuk mengupayakan amalan-amalan yang bisa membangkitkan ghiroh kembali. Sulit, memang sulit di awalnya. Cobalah untuk memaksanya melakukan sunnah-sunnah. Kadang kita butuh dipaksa lebih dulu untuk membiasakan sesuatu, dengan terus belajar mengikhlaskan diri. Sedikit demi sedikit dan berkesinambungan, itu yang terpenting.

Ingatlah… dimanapun kita, bahkan di Negeri para Nabi pun;
jika kita tidak mampu berupaya untuk beramal, maka hati kita akan tetap mengeras wal’iyyaadzubillaah. [sfnh] — dengan Ummu Abdirrohman.

Aku Menangis Untuk Adikku 6 Kali

Bismillaah……..
Aku seorang gadis yang dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, laki laki tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? …Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab,tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.”Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.

“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

(Diterjemahkan dari “I Cried for My Brother Six Times”)

dicopy oleh izzMuslimah dari nyurian.wordpress.com

Pohonku

Bismillaah………

aku benar- benar terbangun dari mimpi panjang…
kadang berkisah tawa kadang berkisah duka…
dan semuanya terangkum dalam satu mimpi…

dalam mimpi aku senantiasa bermain bandulan di bawah pohon
tahukah pohon itu begitu menyenangkan, sejuk kuberada dibawahnya,
pohon itu begitu hijau, rindang dan sejuk apabila dipandang…

namun sayang dahan pohon ranting itu terlalu kecil untuk menahan beratku yang terama sangat
dalam sakuku tersimpan pemberat “jarak, waktu, biaya, dan wali”
aku tak bisa mengeluarkan satupun dari mereka dari dalam sakuku,

aku pun tak ingin beranjak, kuterus bermain- bermain dan bermain dibawahnya
jarang sekali aku menoleh keatas, melihat dahan itu…
yang kutahu dahan itu harus sanggup menopangku

ketika sesekali menoleh keatas, air mataku jatuh… aku kasihan bila pohon ini ambruk
dan apabila aku turun, tak taulah kemana lagi aku bisa mncari pohon sebaik ini.
poohoon ohh pohon, maafkan aku, yang telah mendzalimimu ‘-(

aku mengelus sebelah wajahku, dan air hujan tiba- tiba mengguyurnya
akupun terbangun, terbangun…
dan tersadar……… ah aku telah kehilangan kunci, heii dimana kunciku?

Panggil namaku SABAR

Bismillaah………

air sangat susah pada waktu itu, letak sumur pada berjauhan, sedang sumur terdekat adalah sumur air asin tapi terkadang payau waktu musim hujan.. Maklumlah kami tinggal di pinggir pantai. Dengan menggunakan jerigen2 kami mengangkat air. Kami?? wanita2 lemah dan suka mengeluh ini hanya bisa geleng2. ditambah jadwal kuliah yang sibuk dan sedikit rejeki kami memutuskan untuk menyewa jasa angkat air, #MasyaAllah.

Dengan ini kadang aku suka menitikan air mata ketika ingat ibu/bapak kos kami dulu (ketika masih dduk di bangki SMK di kota bunga Jawa Timur) sering marah- marah melihat tingkah kami (anak2 kosnya) memakai air seperti bebek mandi diempang.. seenaknya saja, sampai tagihan air menjadi membengkak. barulah- barulah sadar betapa melalaikan nikmat yang tersedia begitu melimpah.

Kembali kepada jasa mengangkat air… kami biasa memakai jasa Om Sabar atau orang disni memanggilnya Nana Sabar (Nana, Bahasa flores timur artinya Paman). Om Sabar mematok harga 6000 per Jerigen atau kadang 20rb perkereta yang berisi beberapa jerigen air.

Ketika belum tahu namanya kukira Om Sabar buka seorang muslim, he he… wajarlah identik dengan wajah2 flores yang rata2 beragama katholik. ditambah lagi letak rumah beliau yang berada ditengah2 rumah-rumah orang rote yang rata2 beragama protestan. Sedang pada umumnya orang muslim disini rumahnya menempel di sekitar masjid kampung bugis yaitu masjid Al- Fitrah.

Entahlah, menurutku sabar itu memang identik dengan muslim, bukan begitu kawan??. Awalnya aku tak percaya namanya Sabar… sedikit aneh saja, karena biasanya orang Muslim flores namanya itu yaa nama-nama islami, arabic gitu misalnya Husein, Syafruddin, Awaluddin, dll.
Eh, ternyataka tebakanku benar… nama aslinya bukan Sabar, Sabar itu nama panggilan karena suatu peristiwa dalam fase kehidupannya bahkan orang- orang dsini sudah lupa siapa nama asli Om Sabar.

Om Sabar seorang buruh nelayan miskin, kerjanya serabutan, kadang buruh mengecat perahu- perahu nelayan, kadang mengangkat air, bahkan istrinya kadang megais barang- barang bekas disekitar rumah kami… #BegitulahKehidupan. Kadang kemiskinan menjadikan suatu alasan yang tidak masuk akal, dan kemiskinan juga menjadi peluang misi- misi tertentu #AllahummaInniNaudzubikaMinalKufriWalFakri. Karena Kemiskinannya Om Sabar pernah menjadi sasaran Missionaris.. siang dan malam mereka dengan wajah manisnya mendekati om sabar, dengan segala macam bantuan uang dan pangan bahkan janji- janji yang menggiurkan. Rumah beliau yang hampir roboh pun mereka janjikan akan dibangun menjadi gedong #WowAmazing. mendengar critanya saya geleng2 saja.. karena notabenya kos saya saja bukan gedongan hanya dari triplek2 yang dilapisi bambu.

hampir, hampir saja, om sabar dan keluarganya sudah hendak ikut mereka, namun mendengar hal tersebut bapak imam masjid Al- Fitrah haji Badar Daeng Pawero segera mengambil tindakan. didatanginya rumah om Sabar.. diadakannya pendekatan- pendekatan dan nasehat, agar tetap sabar karena begitulah ujian di dunia. Tetapi memang begitulah faktor Ekonomi yang kadang membuat dada menjadi smpit. sampai pada akhirnya dengan menggunakan infak di masjid bapak imam berjanji akan memperbaiki rumahnya asal ia tetap bertahan dan sabar. dan om sabar pun akhirnya komit dan berjanji akan sabar, walau bukan rumah gedongan yang bisa diusahakan masjid.. hanya rumah dari bambu, tetapi Alhamdulillah lebih tegak dan gagah dari rumah sebelumnya.

Dari itu orang- orang disini selalu menyabarkan om sabar, dengan nyebut “Sabar ya Om”, “Sabar ya Om” hingga nama itu amat melekat pada diri Om sabar. Sabar- sabar.. kadang aku ingin juga dipanggil sabar.. agar lebih sabar dan tidak mudah mengeluh lagi.

tapi begitulah kadang sabar itu juga memerlukan suatu trik, untuk seorang muslim agar lebih sabar dan istiqomah caranya yaa itu.. mempertebal iman dengan banyak2 menuntut ilmu dan berkumpul dengan orang yang menyeru sabar dan ilmu…

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.(QS. Al- Kahfi) “

Awal mencintai ILmu

Bismillaah…

Apa yang kita lakukan ketika sangat lapar? tentu mancari-cari makanan dan menyantapnya. jika ada orang lapar.. hanya berteriak, menangis, menyalahkan orang lain, dan memasang jurus cuek… mungkin bisa dikatakan itu adalah orang sedikit ada gangguan jiwa dan stress lalu ingin mati.
Lalu apa yang kita lakukan ketika kita ini bodoh?? pernahkah kita merasa bodoh? dari anak SD pun jika ditanya pasti jawabannya adalah belajar. tapi apakah kita telah benar2 melakukan hal tersebut… ? saya sendiri belum bisa sepenuhnya melakukan hal itu. mengapa? kurang sadarnya akan pentingnya ilmu. Dan yang lebih menarik bahwa jarang ada yang merasa bodoh… penyebabnya sama!! kurang peka terhadap pentingnya suatu ilmu
Berawal dari sebuah SMS iseng yang kukirim kepada beberapa orang untuk memastikan bahwa jawaban mereka akan sama dengan jawabanku, atau setidaknya menggembar gemborkan bahwa jawabanku itu  bagus #Sigh, smsnya kira-kira begini:

“Seandainya anda harus memilih diantara 7 urusan di dunia dibawah ini, mana yang lebih anda pilih? ILMU?/ IBADAH? /SEHAT? /CINTA? /KESEMPATAN? /KESENANGAN? /UANG? dan kemukakan alasannya?”

aku pribadi pada saat itu menjawab “Kesempatan” #Aneh’, dengan alasan ketika kita jatuh pada suatu kesalahan yang fatal dan berakhir dengan keburukan maka saya masih memiliki “Kesempatan” untuk memulai nya kmbali.

Kebanyakan dari para responden memilih “KESEHATAN” dengan alasan yang hampir seragam yaitu, “ketika sehat kami akan dapat melaksanankan ibadah, cinta mencintai, mencari ilmu, mencari kesenangan, dan memiliki kesempatan”–> exactly, jawaban yang sangat logis dan realistis.

Namun ada satu jawaban yang sangat membuat “Jleb” ketika ada satu responden yang memilih “ILMU” dengan alasan : “Dengan ilmu kita tahu bagaimana cara beribadah yang benar, dengan ilmu kita tahu penyebab sehatnya fisik dan ruhani, dengan ilmu kita tahu siapa yang layak kita cintai, dengan ilmu kita tahu 2 hal yang banyak dilalaikan adalah kesehatan dan kesempatan (waktu luang) dengan ilmu kita tahu sarana-sarana kebahagiaan, dengan ilmu kita tahu bagaimana menyikapi dunia.. Wallahua’lam”–> sangat realistis dan lebih berbobot dari yang memilih “KESEHATAN” karena ilmu adalah makanan jiwa, jiwa yang makan adalah jiwa yang sehat, dan jiwa yang sehat adalah penyebab terbesar sehatnya fisik, bukankah begitu?

dan ilmu juga yang menyebabkan orang diangkat derajatnya, dan orang berilmu itu lebih dihargai daripada orang berharta…^^.

Keanehan- keanehan ilmu… semakin dibagi maka akan semakin bertambah banyak beda dengan harta ataupun cinta, yang semakin dibagi maka akan menjadi semakin sedikit. Semakin belajar/ semakin berilmu semakin membuat person-nya menjadi merasa kecil dan rendah hati dikarenakan ia semakin tahu bahwa ilmu itu tak berbatas dan masih banyak yang harus ia pelajari, sedang pemilik harta.. kebanyakan mereka malah menjadi tinggi hati ketika hartanya bertambah banyak.

jadi untuk menyikapi dunia, dan menuju akhirat masih perlu banyak belajar bukan? Tunggu Apa lagi? BersemangatLah!!!

“Ketika suatu hari aku telah lelah menulis dan membaca, diatas buku buku kuletakkan kepalaku. dan saat aku mnyentuh sampul-sampulnya aku sadar (terbangun) bahwa kewajiban-kewajibanku masih banyak “(Imam An-Nawawi Rahimahullah)

sudut sudut kelengangan

Bismillaah……….

Engkau berhasil meneteskannya lagi..
hari ini engkau berhasil.. dan lagi lagi engkau berhasil…

katakanlah padaku bagaimana kubalut lukamu?
katakanlah padaku bagaimana memekarkan hatimu?
katakanlah padaku bagaimana menyalakan satir-satir cinta dihatimu.

peluh disudut kamar hanyalah peluh…
aku marah padamu,,
aku marah pada diriku..
tanganku beku..
sedang lukamu begitu menganga,

duhai mutiara hati, engkau mencari air
padahal engkau diliputi air…
duhai mutiara hati, maafkan aku
tak bisa menjadi fajar dipenantian malammu

Duhai Mutiaraku, Allah menyayangimu
kuatlah, dan berkuatlah..
kutunggu pancaran sinarmu kembali

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.